Gunung Rahtawu Petilasan Para Tokoh Pewayangan
![]() |
| Ilustrasi |
Rahtawu sebenarnya adalah nama desa di lereng Gunung Muria masuk
Kecamatan Gebog itu. Bagi masyarakat Kudus dikenal banyak menyimpan
misteri. Sekitar tiga dasa warsa yang lalu (lebih 30 tahun-Red), Rahtawu
merupakan sebuah desa yang sangat terisolir. Sebab, belum ada jalan
poros desa. Roda empat pun tak bisa menuju ke desa itu, termasuk
angkudes. Satu-satunya jalan adalah lewat jalan setapak. Pendatang harus
rela berjalan kaki sekitar lima kilometer mulai dari Desa Menawan.
Berkat jasa Bupati Marwotosoeko, dengan tekad gugur gunung, jalan menuju
desa tersebut sudah dilebarkan, sehingga Rahtawu menjadi seperti
sekarang ini. Kini, meskipun lokasinya tidak mudah dicapai, Rahtawu
mempunyai daya tarik tersendiri bagi mereka yang suka melakukan ritual
ziarah.
Kawasan Rahtawu banyak menyimpan petilasan (bukan makam-Red) dengan
nama-nama tokoh pewayangan leluhur Pandawa. Sebut saja petilasan Eyang
Sakri, Lokajaya, Pandu, Palasara, Abiyoso. Selain itu di sana juga ada
kawasan yang diberi nama Jonggring Saloka dan Puncak Songolikur.
Petilasan ini banyak menarik minat orang untuk datang berziarah.
Rahtawu mempunyai arti getih yang bercecer (darah yang bercecer).
Menurut mitos, Wukir Rahtawu merupakan tempat pertapaan Resi Manumayasa
sampai kepada Begawan Abiyoso yang merupakan leluhur Pandawa dan Korawa.
Menurut cerita babad dan parwa, konon leluhur raja-raja Jawa merupakan
keturunan dinasti Bharata/para shangyang.
Hingga sekarang banyak sekali tokoh-tokoh pewayangan yang petilasannya
masih dirawat oleh penduduk sekitar. Bahkan, banyak orang–orang dari
luar Kudus (Jateng ) yang berdatangan untuk menikmati suasana
pegunungan dan mistik yang ada di gunung tersebut.
Tidak salah kalau orang -orang yang suka mistik—terutama yang
beraliran kejawen, berdatangan ke gunung Rahtawu, karena memang dari
lereng gunung sampai puncak gunung itu berjajar banyak sekali
petilasan–petilasan dari para tokoh pewayangan yang disucikan dan
disebut ”eyang” oleh penduduk sekitar.
Nama–nama petilasan para tokoh pewayangan yang ada di gunung Wukir
Rahtawu, antara lain: Eyang Sakri (Bathara Sakri), di Desa Rahtawu,
Eyang Pikulun Narada dan Bathara Guru, di Joggring Saloko, dukuh
Semliro, desa Rahtawu. Eyang Abiyasa dan Eyang Palasara, di puncak
gunung “Abiyasa”, ada juga yang menyebut “Sapta Argo”.
Eyang Manik Manumayasa, Eyang Puntadewa, Eyang Nakula Sadewa di lereng
gunung “Songolikur”, di puncaknya tempat pertapaan Eyang Sang Hyang
Wenang (Wening) dan sedikit ke bawah pertapaan Eyang Ismaya. Eyang
Sakutrem (Satrukem) di sendang di kaki gunung “Sangalikur” sebelah
timur.
Eyang Lokajaya (Guru Spiritual Kejawen Sunan Kalijaga, menurut dongeng
Lokajaya nama samaran Sunan Kalijaga (sebelum bertaubat), di Rahtawu.
Eyang Mada (Gajah Mada) dan Eyang (Romo) Suprapto, berupa makam di dusun
Semliro. Memang didaerah rahtawu peradaban Hindu, budha tidak tampak
jelas karena tidak ditemukan candi/arca yang sebagai mana ditemukan di
daerah lain yang mempunyai peradaban hindu/budha Yang ada hanyalah
petilasan-petilasan batu datar yang merupakan bekas tempat bersemedinya
para ” suci “.
Ada satu lagi yang aneh dari kebudayaan warga sekitar, meskipun semua
petilasan yang ada di Wukir Rahtawu identik dengan para tokoh
Pewayangan ( Mahabarata – Hindu ), tapi di sana sangat ditabukan untuk
mengadakan pagelaran wayang.
Konon cerita para penduduk setempat, pernah ada yang melanggar larangan
tersebut, maka datang bencana angin ribut yang menghancurkan rumah dan
dukuh yang mengadakan pagelaran wayang tersebut. (Fery N)
